Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Peringati Harganas Ke-33, Menteri PPPA Sebut Kehadiran Ayah Jadi Kunci Utama Cegah Perkawinan Anak

Selasa | Juni 30, 2026 WIB Last Updated 2026-06-30T09:43:19Z
Memperingati Hari Keluarga Nasional ke-33 yang mengusung tema "Ayah Hadir, Keluarga Harmonis untuk Mewujudkan Ketahanan Keluarga". Foto: Kemenpppa

Laporaninformasi.com (Surabaya) – Memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 yang mengusung tema "Ayah Hadir, Keluarga Harmonis untuk Mewujudkan Ketahanan Keluarga", Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kemitraan pengasuhan antara ayah dan ibu. Langkah strategis ini dinilai krusial untuk menekan angka perkawinan anak di Indonesia.


Menteri PPPA menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam pembangunan bangsa, sekaligus tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan kasih sayang, perlindungan, pendidikan, dan nilai-nilai kehidupan.


"Pencegahan perkawinan anak tidak dapat dilepaskan dari peran keluarga. Pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu sebagai mitra yang setara. Kehadiran ayah bukan hanya fisik, tetapi juga secara emosional dalam pengambilan keputusan, pendidikan, pengasuhan, serta sebagai teladan bagi anak," ujar Arifah Fauzi pada Peringatan Harganas ke-33 Provinsi Jawa Timur di Surabaya.


Ia menambahkan, dengan kemitraan pengasuhan yang kuat, anak akan tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, serta memiliki aspirasi pendidikan, kesehatan mental, dan perencanaan masa depan yang jauh lebih baik.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi perempuan usia 20–24 tahun yang menikah pertama kali atau hidup bersama sebelum usia 18 tahun secara nasional mengalami penurunan, dari 5,90 persen menjadi 4,56 persen. Penurunan ini mencatatkan capaian positif karena berhasil melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 8,74 persen.


Secara khusus, Menteri PPPA memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Wilayah ini berhasil menurunkan angka perkawinan anak selama lima tahun berturut-turut, dari 10,67 persen menjadi 5,49 persen. Capaian ini dinilai sebagai buah dari penguatan kebijakan, edukasi masif ke masyarakat, peningkatan layanan perlindungan anak, serta kolaborasi lintas sektor.


Guna memperkuat upaya tersebut di tingkat regulasi, Pemerintah telah menetapkan Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak (STRANAS PPA). Langkah ini diperkuat melalui Nota Kesepahaman antara Kemen PPPA dengan Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung terkait Perlindungan Perempuan dan Anak dalam Penanganan Perkara Dispensasi Kawin dan Perceraian.


Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, turut menekankan pentingnya membangun relasi setara antara suami dan istri sejak awal kehidupan berkeluarga. Ia menyoroti perlunya penguatan pembekalan bagi kaum pria sebelum membina rumah tangga.


"Sudah saatnya pembekalan perkawinan tidak hanya mempersiapkan perempuan untuk menjalankan perannya dalam keluarga, tetapi juga memperkuat kesiapan laki-laki sebagai suami dan ayah yang bertanggung jawab. Keluarga yang harmonis hanya dapat terwujud apabila tanggung jawab pengasuhan dan kehidupan keluarga dijalankan secara bersama," tutur Khofifah.


Senada dengan Gubernur, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Shodiqin, menegaskan bahwa pembangunan keluarga yang berkualitas merupakan pilar utama dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, kehangatan keluarga merupakan benteng terbaik agar anak tidak terjerumus ke dalam berbagai persoalan sosial.


Selain menyampaikan arahan strategis, dalam rangkaian peringatan Harganas ke-33 ini Menteri PPPA juga menyempatkan diri meninjau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan stan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).


Acara tersebut juga dirangkaikan dengan penyerahan Penghargaan Pencegahan Perkawinan Anak (PPA Awards) kepada pemerintah daerah yang menunjukkan komitmen nyata di lapangan.


Sebagai penutup, Pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi meluncurkan program Pendampingan dan Layanan Terintegrasi bagi Keluarga ASN (Pelita ASN). Program inovatif ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam memperkuat kualitas pengasuhan dan ketahanan keluarga di lingkungan aparatur sipil negara. *Jel/red*

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update