Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hadapi Era AI, Generasi Madrasah Diminta Kuasai Kitab Turats Sekaligus Teknologi Modern

Minggu | Juli 26, 2026 WIB Last Updated 2026-07-26T03:01:42Z
Menghadapi pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dan era digital, generasi madrasah diharapkan memiliki kualifikasi ganda. Foto: Kemenag

Laporaninformasi.com (Jakarta) — Madrasah dituntut untuk bertransformasi tidak sekadar menjadi tempat menimba ilmu agama, melainkan menjadi kawah candradimuka lahirnya peneliti, inovator, dan pemimpin masa depan. Gagasan ini mendorong pesantren dan madrasah di Indonesia untuk kembali meraih kejayaan peradaban Islam seperti era Baitul Hikmah pada masa keemasan abad ke-7 dan ke-8 Masehi.


Peradaban besar dinilai selalu berawal dari tradisi membaca (Iqra') yang berkembang menjadi tradisi berpikir, melahirkan riset, menciptakan inovasi, hingga akhirnya memberikan kemaslahatan bagi umat manusia.


"Bangsa yang ingin unggul tidak cukup hanya memiliki kekayaan alam. Yang jauh lebih menentukan adalah kekayaan pengetahuan dan kualitas manusianya—berakhlak dan memiliki kesadaran ketuhanan yang tinggi," demikian penekanan visi pengembangan literasi madrasah tersebut.


Di tengah era modern, makna literasi di lingkungan madrasah kini tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca buku. Literasi dimaknai secara lebih luas sebagai kecakapan membaca kehidupan, memahami dinamika zaman, berpikir kritis, serta melahirkan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat. Oleh karena itu, budaya literasi di madrasah diimbau untuk tidak lagi berhenti pada kegiatan seremonial belaka.


Menghadapi pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dan era digital, generasi madrasah diharapkan memiliki kualifikasi ganda. Para siswa dituntut mampu membaca Al-Qur'an dan kitab turats (kitab kuning), sekaligus menguasai data, media digital, dan ilmu pengetahuan modern.


Kehadiran teknologi AI ditegaskan bukan untuk ditakuti, melainkan harus disikapi secara kritis dengan tetap menempatkan akal, etika, dan hati nurani manusia sebagai penentu arah.


Di tengah gempuran banjir informasi dan maraknya hoaks, tantangan terbesar saat ini adalah membangun nalar kritis masyarakat agar mampu membedakan antara fakta dan opini, serta antara kebenaran dan manipulasi. Ilmu tanpa etika dinilai dapat menyesatkan, sedangkan etika tanpa ilmu akan kehilangan daya untuk menjawab tantangan zaman.


"Ukuran keberhasilan literasi bukanlah berapa banyak buku yang selesai dibaca, melainkan berapa banyak gagasan yang lahir, penelitian yang dilakukan, karya yang dihasilkan, inovasi yang diciptakan, dan solusi yang diberikan kepada masyarakat," lanjut penegasan tersebut.


Melalui penguatan tradisi riset, perpustakaan yang hidup, serta ruang diskusi yang aktif, madrasah di seluruh Indonesia diharapkan mampu menjadi lokomotif utama yang melahirkan generasi penerus yang berakar kuat pada nilai agama sekaligus adaptif terhadap kemajuan teknologi dunia. *Jel/red*

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update