Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gandeng BMKG hingga WFP, Kemenko PMK Pertajam Sistem Peringatan Dini Bencana di NTT

Selasa | Juni 16, 2026 WIB Last Updated 2026-06-16T13:14:15Z

 

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan memperkuat sabuk kesiapsiagaan bencana di wilayah Nusa Tenggara Timur yang berlangsung di Kupang, 9–11 Juni 2026. Foto: Kemenkopmk


Laporaninformasi.com (Kupang) — Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bergerak cepat memperkuat sabuk kesiapsiagaan bencana di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah taktis ini diwujudkan melalui gelaran Lokakarya Implementatif Peringatan Dini Berbasis Dampak untuk Penguatan Aksi Merespons Peringatan Dini (AMPD) yang berlangsung di Kupang, 9–11 Juni 2026.


Tidak tanggung-tanggung, kolaborasi lintas sektor ini mengintegrasikan kekuatan instansi pusat dan daerah, mulai dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Kupang, hingga lembaga internasional World Food Programme (WFP).


Agenda strategis ini dirancang untuk memotong rantai birokrasi informasi kebencanaan. Melalui sistem ini, data peringatan dini tidak lagi sekadar menjadi rilis cuaca, melainkan langsung dikorelasikan dengan analisis dampak di lapangan untuk mempercepat pengambilan keputusan lintas sektor saat bencana mengancam.


Aktivitas lokakarya ini dilakukan secara berlapis demi menghasilkan sistem yang operasional. Pada 9–10 Juni 2026, lokakarya berfokus di tingkat provinsi dengan mengumpulkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) NTT, BMKG, dan BNPB. Di sini, para pemangku kepentingan memetakan ketersediaan data, mengevaluasi sistem koordinasi yang ada, dan merumuskan regulasi prakiraan berbasis dampak.


Selanjutnya, pada 11 Juni 2026, tim bergerak ke tingkat tapak dengan menggandeng Pemerintah Kabupaten Kupang serta organisasi masyarakat lokal. Langkah ini diambil untuk memvalidasi rumusan provinsi sekaligus menyerap kearifan lokal serta kebutuhan riil komunitas terkait jalur penyebaran informasi kebencanaan.


Dari diskusi maraton tersebut, lahir sebuah kesepakatan awal mengenai penguatan tata kelola mitigasi, integrasi data lintas sektor, serta blueprint pengembangan platform bersama. Seluruh poin ini bakal dituangkan dalam dokumen rekomendasi resmi sebagai panduan implementasi AMPD di NTT.


Saat menutup rangkaian acara, Analis Kebijakan Ahli Madya Kemenko PMK, Laode Muhamad Talib, yang mewakili Asisten Deputi Penanganan Bencana Kemenko PMK, menekankan bahwa secanggih apa pun sistem data, kuncinya ada pada pergerakan di lapangan.


“Pengembangan Peringatan Dini Berbasis Dampak dalam Aksi Merespons Peringatan Dini bukan hanya tentang menghasilkan informasi yang lebih baik, tetapi juga memastikan informasi tersebut dapat diterjemahkan menjadi keputusan dan tindakan yang nyata," tegas Laode dalam pidato penutupnya.


Ia menambahkan, sinergi antara kesiapan otoritas teknis dan kepatuhan masyarakat di tingkat tapak adalah kunci utama untuk meminimalisasi risiko dan melindungi warga dari ancaman bencana secara optimal.


Melalui lokakarya ini, Kemenko PMK menargetkan NTT dapat memiliki sistem mitigasi yang lebih responsif, sehingga respons penanganan di daerah dapat berjalan lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi secara penuh. *Jel/red*

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update