Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dorong Visi 'Diktisaintek Berdampak', Menteri Brian Tegaskan Riset Harus Jawab Tantangan Global

Rabu | Juni 24, 2026 WIB Last Updated 2026-06-24T02:46:55Z
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, dalam pidatonya pada pembukaan acara The Global Sustainable Development Congress 2026 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang Selatan, Selasa (23/6). Foto: Kemendiktisaintek

Laporaninformasi.com (Tangerang) – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menegaskan bahwa transformasi pendidikan tinggi di Indonesia harus bertumpu pada penguatan kualitas, pemerataan kapasitas antarperguruan tinggi, serta pembangunan budaya riset dan sains yang kokoh.


Hal tersebut disampaikan dalam pidatonya pada pembukaan acara The Global Sustainable Development Congress 2026 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang Selatan, Selasa (23/6).


Dalam forum internasional tersebut, Menteri Brian memaparkan capaian signifikan Indonesia yang telah menghasilkan lebih dari 335 ribu publikasi ilmiah dan lebih dari 1,5 juta sitasi. Selain itu, tingkat kolaborasi penelitian internasional Indonesia saat ini telah mencapai 23,7 persen, sebuah angka yang mencerminkan peluang besar dalam memperluas jejaring riset global.


Kendati demikian, ia mengingatkan agar institusi pendidikan tidak terjebak dalam pemenuhan angka-angka administratif semata. Riset dan inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dituntut untuk memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat serta mampu menjawab tantangan global.

“Tujuan akhir dari penelitian sendiri adalah apa yang dapat kita sumbangkan kepada masyarakat. Karena pembangunan berkelanjutan bukan hanya tentang menyelesaikan penelitian dan menerbitkannya. Lebih dari itu, bagaimana kita dapat menghadirkan dampak dari pekerjaan, pengetahuan, dan penelitian kita bagi masyarakat,” ujar Brian Yuliarto.


Lebih lanjut, Mendiktisaintek menjelaskan bahwa fondasi utama untuk mewujudkan perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing global adalah ekosistem akademik yang sehat. Merujuk pada berbagai kampus bereputasi dunia, keberadaan laboratorium yang aktif serta dukungan dosen dan profesor yang produktif memegang peranan sentral dalam menghidupkan budaya sains tersebut.


Guna mengatasi ketimpangan kualitas antar-kampus di dalam negeri, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) kini tengah menggalakkan sistem kemitraan inklusif.


"Saat ini, kami mengembangkan sistem mentorship, di mana perguruan tinggi yang lebih maju menjadi mentor dan coach bagi perguruan tinggi lainnya. Kami juga membangun jejaring antarkampus karena dengan jumlah perguruan tinggi yang sangat besar di Indonesia, kolaborasi dan kerja sama merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi secara bersama-sama,” terangnya.


Langkah strategis ini dikemas dalam visi "Diktisaintek Berdampak", yang menempatkan sektor pendidikan tinggi, sains, dan teknologi sebagai motor utama transformasi sosial dan ekonomi nasional. Kebijakan ini difokuskan pada delapan sektor prioritas strategis, meliputi ketahanan pangan, kesehatan, energi, maritim, pertahanan, digitalisasi dan kecerdasan artifisial (AI), semikonduktor, manufaktur maju, serta program hilirisasi dan industrialisasi.


Mengakhiri arahannya, Mendiktisaintek mengajak seluruh mitra global yang hadir untuk memperkuat sinergi yang bermakna demi mewujudkan masa depan dunia yang lebih inklusif, sejahtera, dan berkelanjutan melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. *Jel/red*

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update