Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Program KNMP Ketapang Berdayakan Istri Nelayan dan Sulap Limbah Ikan Jadi Bernilai Ekonomi Tinggi

Jumat | Oktober 02, 2026 WIB Last Updated 2026-10-02T10:27:16Z
Program Kampung Nelayan Merah Putih KNMP di Desa Ketapang, Jumat (2/10/2026). Foto: Kemenkkp

Laporaninformasi.com (Jakarta) — Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, sukses mendongkrak nilai tambah komoditas perikanan lokal. Melalui hilirisasi pengolahan hasil tangkapan, ikan belo (Anodontostoma selangkat) dan ikan selangat (Anodontostoma chacunda) yang sebelumnya bernilai ekonomi rendah kini menjelma menjadi produk olahan bernilai jual tinggi.


Sebelum adanya intervensi program ini, ikan-ikan tersebut biasanya hanya dihargai sekitar Rp700 hingga Rp1.000 per kilogram di tingkat lokal. Namun, berkat pengolahan modern menjadi produk fillet, komoditas tersebut kini menembus harga jual Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram di pasaran.


"Ikan dari nelayan saat ini dihargai Rp2.000/kg oleh offtaker, kemudian menjadi ikan fillet dengan harga jual Rp13.000–Rp14.000/kg. Artinya nilainya mengalami kenaikan signifikan," terang Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (Plt. Dirjen PDSPKP), Erwin Dwiyana, melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (2/10/2026).


Proses pengolahan fillet ikan belo dan selangat ini dipusatkan di area penanganan cold storage yang berada di lingkungan KNMP Ketapang. Langkah ini membuktikan bahwa operasional KNMP tidak sekadar memperkuat produktivitas di sektor hulu, tetapi juga sukses menciptakan lini usaha turunan yang produktif di sektor hilir.


Tidak hanya itu, program ini turut memberikan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar. Tercatat, KNMP Ketapang berhasil memberdayakan sebanyak 11 orang perempuan yang merupakan istri nelayan setempat sebagai tenaga kerja pengolahan.


"Tentu ini kabar menggembirakan bahwa KNMP Ketapang bisa menjadi simpul hilirisasi yang menyerap sekaligus memberdayakan masyarakat pesisir," imbuh Erwin.


Apresiasi serupa juga disampaikan oleh Direktur Pengolahan Ditjen PDSPKP, Budi Yuwono. Ia memuji konsistensi KNMP Ketapang dalam menerapkan konsep ekonomi sirkular atau tanpa limbah (zero waste).


Di lokasi ini, sisa pengolahan ikan seperti isi perut, tulang, dan kepala ikan tidak dibuang begitu saja, melainkan diolah kembali menjadi bahan baku tepung ikan. Sisa-sisa bagian ikan tersebut bahkan dihargai Rp3.000 hingga Rp4.000 per kilogram oleh pengelola.


"Kami sangat mengapresiasi bahwa hilirisasi juga mengubah limbah menjadi emas. Jadi tidak ada satu bagian pun yang terbuang," ujar Budi.


Pihaknya berharap kisah sukses KNMP Ketapang dapat menjadi katalisator serta pemantik semangat bagi lokasi-lokasi KNMP lainnya di seluruh Indonesia yang memiliki komoditas perikanan serupa.


"Kami percaya optimalisasi KNMP mampu mewujudkan kesejahteraan nelayan dan kejayaan maritim Indonesia," pungkasnya. *Jel/red*

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update