Laporaninformasi.com (Bogor) — Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung memaparkan arah kebijakan dan prioritas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2027 yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang ekspansif namun tetap terukur. Mengusung tema “Tumbuh Lebih Tinggi, Sejahtera Lebih Cepat”, APBN 2027 diposisikan sebagai salah satu pilar utama penggerak perekonomian nasional.
Pemaparan tersebut disampaikan oleh Wamenkeu Juda dalam kegiatan Media Gathering Kementerian Keuangan 2026 yang diselenggarakan di Bogor, Kamis (1/10/2026).
Ia menjelaskan, kerangka APBN 2027 akan ditopang oleh tiga fungsi utama yang berjalan beriringan. Ketiga fungsi tersebut meliputi fungsi menumbuhkan perekonomian (to grow), melindungi masyarakat (to protect), dan mendukung transformasi ekonomi (to transform), dengan tetap berpegang pada koridor fiskal yang sehat dan pruden (prudent).
"APBN 2027 mengusung tema ‘Tumbuh Lebih Tinggi, Sejahtera Lebih Cepat’. Ini akan didorong oleh APBN 2027 sebagai salah satu sumber pertumbuhan, dengan tujuan supaya APBN 2027 bisa menumbuhkan, melindungi masyarakat yang kurang beruntung, dan melakukan transformasi ekonomi kita, tentu dalam koridor fiskal yang prudent," ujar Wamenkeu Juda.
Lebih rinci ia menjelaskan, fungsi to grow diwujudkan melalui kebijakan anggaran yang menstimulasi aktivitas ekonomi, investasi, serta mendukung agenda pembangunan prioritas pemerintah demi pertumbuhan yang berkelanjutan. Fungsi to protect difokuskan untuk memastikan kehadiran negara dalam menjaga daya beli, kesejahteraan, serta pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, fungsi to transform diarahkan untuk memperkuat fondasi jangka panjang melalui akselerasi investasi, hilirisasi, dan industrialisasi.
Guna menopang tiga fungsi utama tersebut, pemerintah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat sumber-sumber penerimaan negara dari berbagai sektor: Sektor Perpajakan Direktorat Jenderal Pajak akan memperluas basis pajak berbasis data dan teknologi, mengoptimalkan penggunaan Coretax serta Compliance Risk Management Integrated Risk Engine, memperkuat kepatuhan Wajib Pajak strategis dan berisiko tinggi, serta penegakan hukum dan insentif pajak yang terarah, Sektor Kepabeanan dan Cukai Fokus diarahkan pada pemberantasan peredaran Barang Kena Cukai (BKC) ilegal, intensifikasi tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) dan bea masuk, perluasan basis penerimaan bea keluar, penguatan klasifikasi barang, serta dukungan terhadap fasilitasi ekspor dan hilirisasi wilayah dan Sektor PNBP Optimalisasi pendapatan dari sumber daya alam (SDA) ditempuh melalui perbaikan tata kelola, pemanfaatan Sistem Informasi Mineral dan Batubara (SIMBARA), serta peningkatan nilai tambah yang ramah lingkungan, didukung digitalisasi dan penyederhanaan layanan.
Dari sisi pembiayaan, pemerintah menetapkan target defisit APBN 2027 pada level yang aman, yakni 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Strategi pembiayaan akan lebih menitikberatkan pada optimalisasi sumber domestik guna meredam kerentanan terhadap gejolak ekonomi global.
Selain itu, pengelolaan utang akan dilakukan secara aktif melalui active cash and debt management, optimalisasi peran Danantara, Special Mission Vehicle, BLU, Sovereign Wealth Fund, perluasan akses pembiayaan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), serta pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai penyangga (buffer) ketidakpastian.
"Strategi utamanya adalah tetap fokus dominannya di pembiayaan dari domestik yang relatif tidak rentan terhadap gejolak global. Surat Berharga Negara kita sekarang ini mungkin hanya 13-14 persen yang dimiliki asing. Sementara, 10 tahun lalu SBN kita hampir 40 persen yang dimiliki asing. Ini tentu saja bisa mengurangi kerentanan di pasar uang dan pasar valas kita," pungkasnya. *Jel/red*
