Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perkuat Layanan Psikososial di Flores, Kemenkes Terjunkan 160 Nakes Tambahan ke NTT

Selasa | September 08, 2026 WIB Last Updated 2026-09-08T06:33:09Z
Kementerian Kesehatan RI kembali menerjunkan 160 personel Tenaga Cadangan Kesehatan Batch 2, Senin (7/9/2026). Foto: Kemenkes

Laporaninformasi.com (Jakarta) — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali menerjunkan 160 personel Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Batch 2 guna mendukung pemulihan pascabencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ratusan tenaga medis tersebut diberangkatkan melalui Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta pada Senin (7/9/2026).


Penugasan gelombang kedua ini melengkapi 206 nakes pada tahap pertama. Kali ini, para TCK diterjunkan khusus untuk memperkuat layanan kesehatan mental dan pemulihan psikososial warga di empat wilayah terdampak, yakni Kabupaten Ngada, Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.


Plt. Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya, menjelaskan bahwa setelah fase darurat fisik berlalu, intervensi terhadap trauma psikologis masyarakat menjadi krusial.


"Pendekatannya agak berbeda karena ini lebih kepada psikososial, bagaimana kita memberangkatkan tenaga-tenaga yang memberikan kesehatan mental bagi masyarakat di daerah Flores," kata Sumarjaya di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (7/9/2026).


Para personel TCK akan disebar ke fasilitas kesehatan lokal, puskesmas, serta dua Rumah Sakit Lapangan di Ruteng dan Ngada. Selain mengawal pemulihan trauma anak-anak dan perawatan pasien pascaoperasi, Kemenkes juga menerjunkan tim surveilans guna mendeteksi dini potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular pascabencana.


Sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), para relawan medis ini akan bertugas selama 14 hari sebelum dilakukan rotasi personel. Penugasan menyesuaikan status tanggap darurat Pemprov NTT yang berlangsung hingga 12 September 2026 dan berpotensi diperpanjang.


Misi kemanusiaan ini turut menggerakkan para dokter muda, salah satunya dr. Rayhendra Hanif asal Padang. Ia mengaku terdorong bergabung karena pernah merasakan dampak langsung gempa Padang 2009 saat masih duduk di bangku sekolah dasar.


"Hati saya tergerak untuk pergi ke NTT karena kondisinya mirip, sama-sama gempa. Ini bukan lagi hanya memperbaiki kesehatan fisiknya saja, tapi kita harus membantu memulihkan kesehatan psikologisnya juga," ungkap dr. Rayhendra. *Jel/red*

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update