Laporaninformasi.com (Kalimantanselatan) – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggandeng Yayasan Hasnur Centre menggelar forum kepemudaan "Ramah Indonesia: Muda Bersuara 3". Mengangkat tema "Out of the Old Mindset: Breaking Stereotypes in Gender Roles", perhelatan ini berlangsung di Auditorium Nurhayati Building, Kompleks SMP-SMA Global Islamic Boarding School, Kabupaten Barito Kuala, pada Selasa (30/6).
Langkah strategis ini digelar untuk memperkuat koordinasi pembangunan pemuda yang inklusif dan responsif gender. Forum ini sekaligus menjadi momentum krusial guna mendorong transformasi pola pikir generasi muda agar mampu mendobrak stereotip gender tradisional sembari memperkokoh karakter kepemimpinan berbasis nilai luhur Pancasila.
Sebanyak 100 pemuda delegasi dari berbagai lini—mulai dari perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, komunitas, instansi pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat umum di Kalimantan Selatan—terlibat aktif dalam ruang dialog dan meaningful participation tersebut.
Dalam pidato pembukaannya, Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kemenko PMK, Warsito, menggarisbawahi bahwa perumusan kebijakan saja tidak cukup untuk menciptakan iklim pemuda yang inklusif. Diperlukan sebuah gerakan kolektif untuk merevolusi cara pandang masyarakat.
"Pemuda harus memiliki karakter yang kuat, menjunjung nilai-nilai luhur Pancasila, serta mampu menjadi agen perubahan bagi kemajuan bangsa," tegas Warsito.
Warsito memaparkan bahwa penguatan karakter mutlak diperlukan demi mencetak generasi yang mandiri, produktif, dan tangguh berwirausaha. Langkah nyata ini diharapkan mampu menekan angka pemuda kategori NEET (Not in Employment, Education, or Training—tidak bekerja, tidak sekolah, atau tidak pelatihan), sekaligus menggerakkan roda ekonomi regional.
"Ketika setiap pemuda, baik laki-laki maupun perempuan, memperoleh kesempatan yang setara untuk mengembangkan potensi, kita tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi daerah, tetapi juga menurunkan angka NEET pemuda di Kalimantan Selatan. Kesetaraan gender harus menjadi bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas," tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Asisten Deputi Pemberdayaan Pemuda dan Peningkatan Prestasi Bangsa Kemenko PMK, Gatot Hendrarto, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari implementasi fungsi koordinasi Kemenko PMK dalam mengawal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Tujuannya adalah memacu kolaborasi lintas sektor guna memastikan lahirnya generasi unggul tanpa sekat diskriminasi.
Senada dengan hal itu, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Kalimantan Selatan, Pebriadin Hafiz, memandang agenda ini sangat kontekstual dengan tantangan riil di daerah. Ia menyebutkan, jaminan kesempatan setara tanpa batasan stereotip jender akan mempercepat terbentuknya ekosistem pemuda yang berdaya saing menuju visi besar Indonesia Emas 2045. *Jel/red*
