Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Wamenkes di HLUN 2026: Kita Ingin Lansia Hidup Lebih Panjang dalam Keadaan Sehat, Bukan Lama tapi Sakit

Minggu | Juni 14, 2026 WIB Last Updated 2026-06-14T14:03:08Z

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menghadiri  puncak peringatan Hari Lanjut Usia Nasional ke-30 di Gedung C RSPON, Jakarta, Jumat (12/6/2026). Foto: Kemenkes
 

Laporaninformasi.com (Jakarta) – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menegaskan komitmennya untuk mentransformasi paradigma lansia di Indonesia dari sekadar bertahan hidup menjadi kelompok yang sehat, mandiri, dan produktif. Langkah ini menjadi fokus utama dalam gelaran Indonesia Active Ageing Summit 2026 yang menjadi puncak peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 di Gedung C RSPON, Jakarta, Jumat (12/6/2026).


Mengusung tema “Lansia Sehat dan Mandiri untuk Indonesia Berdaya”, momentum HLUN tahun ini menyoroti kesiapan pemerintah dalam menghadapi era ledakan penduduk usia tua (ageing population) di tanah air.


Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, menyatakan bahwa indikator keberhasilan pembangunan nasional kini tidak boleh hanya dipatok pada meningkatnya Angka Harapan Hidup (AHH). Lebih dari itu, kualitas hidup di hari tua menjadi poin yang jauh lebih krusial.


“Tujuan kita bukan sekadar memperpanjang umur. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat dapat tetap aktif, produktif, dan bermartabat di usia lanjut. Kita ingin masyarakat Indonesia hidup lebih panjang dalam keadaan sehat, bukan hidup lebih lama tetapi dalam kondisi sakit,” ujar dr. Benjamin dalam sambutannya.


Saat ini, Indonesia resmi memasuki era ageing population dengan jumlah lansia menembus angka 34 juta jiwa, atau berkontribusi sekitar 12 persen dari total populasi nasional. Menghadapi tren ini, Kemenkes melipatgandakan program promotif dan preventif guna menahan laju Penyakit Tidak Menular (PTM) yang kerap menjadi biang keladi kecacatan dan kematian pada lansia.


Dalam pemaparannya, dr. Benjamin mengingatkan bahwa beban penyakit yang dialami lansia saat ini merupakan akumulasi dari gaya hidup di masa muda. Penyakit katastropik seperti stroke dan gagal ginjal, menurutnya, rata-rata berakar dari kondisi hipertensi serta diabetes yang diabaikan semasa usia produktif.


Sebagai solusinya, ia menyerukan pentingnya investasi kesehatan sejak dini, termasuk aktivitas fisik sederhana seperti berjalan kaki minimal 30 menit sehari dengan frekuensi lima kali seminggu.


“Ukuran kemajuan bangsa bukan hanya seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga siapa yang kita lindungi sepanjang perjalanan. Lansia bukan beban, melainkan aset bangsa yang harus dijaga kesehatan, fungsi, dan martabatnya,” tegas Wamenkes.


Di sisi lain, tantangan di lapangan rupanya masih sangat besar. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, membeberkan data yang cukup mengkhawatirkan dari hasil pemeriksaan kesehatan terhadap 6,8 juta lansia di Indonesia.


Berdasarkan data Kemenkes, 95 persen lansia tercatat kurang melakukan aktivitas fisik, 58 persen lansia memiliki tekanan darah di atas normal (hipertensi) dan 51 persen lansia mengalami obesitas atau kelebihan berat badan.


"Data ini menunjukkan bahwa upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit harus terus diperkuat agar lansia Indonesia dapat tetap sehat, aktif, dan mandiri," jelas dr. Endang. *Jel/red*

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update