Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dolar Singapura Tembus Rp14.000, Siap-Siap Biaya Impor dan Ongkos ke Luar Negeri Membengkak

Jumat | Mei 29, 2026 WIB Last Updated 2026-05-29T13:35:47Z
Foto : Ilustrasi/red

Laporaninformasi.com (Jakarta) - Tekanan terhadap mata uang garuda kian meluas. Tidak hanya keok terhadap dolar Amerika Serikat (AS), nilai tukar rupiah kini mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah terhadap dolar Singapura (SGD). Mata uang negara jiran tersebut untuk pertama kalinya resmi menembus level psikologis Rp14.000.


Berdasarkan data pasar pada Jumat (29/5/2026) pukul 07.11 UTC menurut Morningstar, 1 SGD kini dihargai Rp14.013,58. Sehari sebelumnya, Kamis (28/5/2026) pukul 23.00 UTC, agregator kurs mencatat posisi penutupan sudah bertengger di angka Rp14.000. Lonjakan ini melampaui puncak intraday tertinggi pada 27 Mei lalu di level Rp14.006, yang menjadi rekor tertinggi SGD/IDR dalam satu dekade terakhir.


Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, jauh-jauh hari telah memperingatkan eskalasi kejatuhan rupiah ini. Menurut analisanya pada pertengahan Mei lalu, gejolak geopolitik global berpotensi besar menyeret rupiah melemah lebih dalam.


"Dalam perdagangan Mei 2026, kemungkinan besar level Rp18.000 per dolar AS akan tertembus," prediksi Ibrahim dalam analisis pasar sebelumnya.


Melonjaknya kurs dolar Singapura dipicu oleh pelemahan fundamental rupiah akibat sentimen global. Bank Indonesia (BI) mencatat per 19 Mei 2026, rupiah sudah terkoreksi ke level Rp17.700 per USD, atau melemah 2,20 persen dibandingkan akhir April.


Kondisi ini diperparah oleh memanasnya konflik di Timur Tengah yang memicu pelarian modal (capital outflow) besar-besaran dari pasar negara berkembang (emerging markets) menuju aset aman (safe haven).


Di sisi lain, pasar keuangan global ikut tertekan menyusul kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun ke level 4,66 persen dan tenor 2 tahun ke 4,11 persen pada pertengahan Mei. Lonjakan yield ini dipicu oleh membengkaknya defisit fiskal AS serta ekspektasi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan menahan suku bunga tinggi (higher for longer) hingga akhir tahun 2026.


Menyikapi situasi darurat ini, Bank Indonesia mengambil langkah agresif dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 19–20 Mei 2026 dengan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen. Kenaikan ini diikuti dengan penyesuaian Deposit Facility menjadi 4,25 persen dan Lending Facility sebesar 6,00 persen.


Selain menaikkan suku bunga, BI juga melancarkan operasi intervensi intensif di pasar valuta asing.


“Langkah operasional meliputi peningkatan intensitas intervensi valas melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik,” tulis BI dalam rilis resminya.


Sebagai langkah tambahan untuk membendung spekulasi, bank sentral akan menyesuaikan ambang batas transaksi valas tanpa dokumen acuan (underlying) yang mulai diberlakukan efektif per Juni 2026. Meski tekanan berat, BI mengaku tetap optimistis nilai tukar rupiah akan kembali stabil berkat komitmen bank sentral, imbal hasil instrumen moneter yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi domestik yang masih solid.


Tembusnyanya angka Rp14.000 per dolar Singapura menjadi alarm keras bagi sektor riil. Singapura merupakan salah satu mitra dagang, pusat investasi, dan hub logistik terbesar bagi Indonesia.


Dalam waktu dekat, pelaku usaha dan masyarakat harus bersiap menghadapi konsekuensi logis berupa pembengkakan biaya impor bahan baku, lonjakan beban cicilan utang luar negeri berdenominasi valas, hingga naiknya ongkos perjalanan dan pendidikan ke luar negeri. Efek domino ini diprediksi baru akan mereda setelah intervensi moneter dan kenaikan suku bunga BI mulai efektif meredam gejolak pasar global. *red*

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update