LaporanInformasi.Com [Jayapura] - Di balik keindahan alam Tanah Papua yang mempesona, tersimpan sebuah perjuangan sunyi yang tak kalah berat. Wabah malaria, tuberkulosis (TBC), HIV/AIDS, dan kusta masih membayangi kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, kali ini, ada angin segar yang berembus. Pemerintah tak tinggal diam, dan para pemimpin daerah pun berjabat erat, bersatu padu.
Dalam kunjungan kerja yang berlangsung sejak 27 hingga 29 April di Jayapura, Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin P. Octavianus, menyampaikan sebuah fakta yang mencengangkan namun nyata, lebih dari 90 persen kasus malaria di seluruh Indonesia ternyata berasal dari Tanah Papua.
"Bayangkan, hampir seluruh beban malaria nasional ada di pangkuan saudara-saudara kita di sini. Ini bukan sekadar angka, ini tentang para ibu yang terbaring demam, anak-anak yang lemas karena anemia, dan para petani yang kehilangan hari-hari produktifnya," ujar Wamenkes dengan mata berbinar penuh harap.
Ia menegaskan bahwa penanganan penyakit menular di Papua tidak bisa dilakukan dengan cara biasa. Butuh hati yang besar dan kolaborasi yang kuat. Makanya, program quick win Presiden ini digerakkan secara masif di enam provinsi di Tanah Papua.
Tak hanya malaria, nasib saudara-saudara kita yang hidup dengan HIV juga memprihatinkan. Sekitar 12 persen penderita HIV di Indonesia berada di wilayah ini. Belum lagi tantangan menemukan penderita TBC dan memastikan mereka minum obat secara teratur hingga tuntas.
Mendengar itu, Wakil Menteri Dalam Negeri, Dr. Akhmad Wiyagus, ikut angkat bicara. Ia mengingatkan bahwa para bupati, walikota, dan gubernur adalah ujung tombak.
"Jangan biarkan mereka berjuang sendiri. Pemerintah daerah harus bergerak. Mulai dari mengalokasikan anggaran yang cukup, hingga memastikan puskesmas di pelosok buka setiap hari. Ini soal nyawa manusia, Pak, Bu," tegasnya dengan nada penuh ketegasan namun tetap hangat.
Sementara itu, Gubernur Papua, Drs. Mathius D. Fakhiri, yang mewakili enam provinsi di Tanah Papua, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Baginya, kedatangan tim dari pusat ini adalah sebuah pelukan panjang setelah sekian lama berjuang sendiri.
"Kami punya kerinduan yang sama. Kami lelah melihat warga kami sakit. Kami lelah kehilangan saudara karena penyakit yang sebenarnya bisa diobati. Sekarang, dengan gerakan bersama ini, mari kita bangkit. Lawan TBC, AIDS, malaria, dan kusta. Bukan sebagai orang Papua atau orang Jawa, tapi sebagai satu keluarga Indonesia," ucapnya, disambut tepuk tangan haru para pejabat kesehatan yang hadir.
Kisah perjuangan di Tanah Papua masih panjang. Tetapi setidaknya, kini ada kepastian: Pemerintah pusat dan daerah tak lagi berjalan sendiri. Mereka bergandengan tangan, membawa obat-obatan dan harapan, untuk menyelamatkan ribuan nyawa. *red*