Laporaninformasi.com (Lampung) — Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Kaja Glomm, melakukan kunjungan kerja ke Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung, Minggu (20/9/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau secara langsung langkah-langkah perlindungan kawasan terpadu, mulai dari pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga mitigasi konflik satwa dan manusia.
Dalam peninjauan tersebut, Menhut menekankan pentingnya menjaga TNWK sebagai satu kesatuan bentang alam yang utuh. Menurutnya, perlindungan kawasan tidak sekadar pencegahan karhutla dan pengamanan habitat, tetapi juga penciptaan ruang hidup yang aman bagi satwa sekaligus memberikan kepastian rasa aman bagi warga di sekitar kawasan.
Mengawali agenda, rombongan meninjau kesiapsiagaan personel, kecukupan sumber air, serta sarana dan prasarana pemadaman karhutla. Langkah efisiensi dan respons cepat menjadi fokus perhatian mengingat kawasan TNWK sempat beberapa kali dilanda kebakaran dalam beberapa waktu terakhir.
Selanjutnya, Menhut bersama rombongan meninjau pembangunan infrastruktur barrier yang difungsikan untuk meminimalisasi interaksi negatif antara Gajah Sumatera dan masyarakat setempat. Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera, Brigjen TNI Sriyanto, turut mendampingi guna menjelaskan skema mitigasi terpadu yang sedang dibangun di lapangan.
"Keberadaan barrier ini bukan sekadar pembatas fisik, melainkan bagian dari sistem mitigasi terpadu agar gajah tidak keluar dari kawasan dan masuk ke permukiman maupun lahan warga," terang Menhut di sela-sela peninjauan.
Perhatian khusus juga ditujukan pada kondisi gajah-gajah jinak yang selama ini membantu tugas operasional dan mitigasi di TNWK. Menhut menjelaskan bahwa seiring dengan makin lengkap dan berfungsinya infrastruktur barrier serta sistem pengamanan kawasan, penggunaan rantai terhadap gajah jinak akan dikurangi secara bertahap.
Hal itu menarik perhatian Dubes Norwegia, Kaja Glomm, yang mengonfirmasi kembali arah kebijakan pengelolaan satwa tersebut.
"That’s the ambition, to unchain?" tanya Kaja Glomm.
"Yes," jawab Menhut singkat.
Transisi melepas rantai gajah jinak tersebut akan dilakukan secara terukur dengan memperhatikan kesiapan infrastruktur, pola adaptasi individu gajah, serta aspek keselamatan petugas dan masyarakat sekitar.
Kunjungan kerja ini menegaskan bahwa konservasi kawasan TNWK membutuhkan pendekatan yang saling terhubung: pengendalian karhutla untuk menjaga habitat, mitigasi konflik untuk keamanan bersama, serta dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung kelestarian spesies yang makin terancam punah. *Jel/red*
