Laporaninformasi.com (Batam) — Pemerintah Kota (Pemko) Batam mencatatkan tren positif dalam penanganan masalah sosial di wilayahnya. Berdasarkan pembaruan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) pada Juli 2026, sekitar 10.000 warga Batam berhasil keluar dari jurang kemiskinan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Batam, Rudi Panjaitan, mengungkapkan bahwa kinerja positif ini terlihat dari perbandingan data BPS Kota Batam hingga September 2025 yang mencatat penduduk miskin sebanyak 68,04 ribu jiwa (3,81 persen). Sementara itu, data terbaru DTSEN Juli 2026 menunjukkan jumlah keluarga yang masuk dalam Desil 1 berada di angka 19.220 keluarga atau 58.139 jiwa.
"Dari data ini, penanganan kemiskinan di Batam menunjukkan kinerja positif. Kurang lebih 10 ribu warga keluar dari kemiskinan," ujar Rudi Panjaitan, Selasa (29/9/2026).
Selain kemiskinan secara umum, Pemko Batam juga melakukan verifikasi dan validasi ketat terhadap warga kategori miskin ekstrem. Tercatat pada tahun 2026 ini, terdapat 72 keluarga atau sebanyak 450 jiwa yang masuk dalam kategori tersebut.
Dalam mengoptimalkan pengentasan kemiskinan, Pemko Batam mengarahkan kebijakan melalui tiga strategi utama: Pengurangan Beban Pengeluaran Melalui pemenuhan kebutuhan dasar, perluasan jaminan kesehatan, pendidikan, perumahan layak huni, dan berbagai bantuan sosial, Peningkatan Kapasitas Pendapatan Menggenjot pelatihan kerja berbasis industri, penguatan UMKM, penciptaan lapangan kerja, serta kemitraan dengan sektor industri. Langkah ini didasari data yang mencatat ada 10.310 jiwa usia produktif yang belum bekerja, serta 3.389 keluarga yang sudah memiliki usaha dan 10.396 keluarga yang belum memiliki aset produktif dan Pengurangan Kantong Kemiskinan Melakukan intervensi berbasis wilayah, khususnya menyasar kawasan kumuh dan hinterland (kepulauan/pesisir), serta memperkuat sinergi program lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Berdasarkan data DTSEN, sebaran keluarga Desil 1 terbanyak berada di Kecamatan Sagulung sebanyak 2.740 keluarga (8.441 jiwa), disusul Kecamatan Galang dengan 2.412 keluarga (8.223 jiwa), dan Kecamatan Batu Aji sebanyak 1.918 keluarga. Data ini menegaskan bahwa karakteristik penanganan kemiskinan di Batam harus dibedakan antara wilayah perkotaan yang padat dan kawasan hinterland.
Komitmen Pemko Batam dalam menanggulangi kemiskinan juga tercermin dari peningkatan alokasi anggaran yang sangat signifikan dari tahun ke tahun. Anggaran penanggulangan kemiskinan melonjak dari Rp88,54 miliar pada 2023, naik menjadi Rp519,24 miliar pada 2024, lalu Rp565,56 miliar pada 2025, hingga mencapai Rp864,95 miliar pada 2026.
Pada tahun anggaran 2026 ini, dana tersebut didistribusikan ke dalam tiga fokus strategi: Rp466,35 miliar untuk penurunan beban pengeluaran, Rp384,45 miliar untuk pengurangan kantong-kantong kemiskinan dan Rp14,15 miliar untuk peningkatan pendapatan masyarakat.
Melalui konvergensi program, keakuratan data, dan ketajaman intervensi wilayah prioritas ini, Pemko Batam optimistis masyarakat miskin dan rentan tidak hanya mendapat perlindungan sosial, tetapi juga memiliki kemandirian ekonomi secara berkelanjutan. *Jel/red*
