Laporaninformasi.com (Asheville) — Isu maraknya kejahatan keuangan berbasis digital seperti fraud dan scam menjadi sorotan utama dalam Pertemuan Kedua Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 (FMCBG) yang berlangsung di Asheville, North Carolina, Amerika Serikat, pada 31 Agustus hingga 1 September 2026.
Hadir memimpin delegasi Kementerian Keuangan Republik Indonesia mewakili Menkeu, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan bahwa akselerasi teknologi digital di sektor keuangan wajib diimbangi dengan peningkatan literasi serta sistem perlindungan konsumen yang tangguh.
“Perkembangan digitalisasi perlu diimbangi dengan penguatan literasi dan perlindungan konsumen. Mengingat fraud dan scam semakin kompleks dan bersifat lintas batas, diperlukan kerja sama internasional, pertukaran informasi, dan koordinasi antarnegara yang semakin kuat,” ujar Juda Agung dalam forum tersebut, Rabu (2/9/2026).
Dalam kesempatan itu, Wamenkeu memaparkan langkah konkret Indonesia yang telah membangun koordinasi kelembagaan nasional serta mengembangkan Anti-Scam Center. Inisiatif ini dirancang khusus untuk mempercepat penanganan kejahatan sektor keuangan yang berdampak langsung pada masyarakat.
Mengingat modus kejahatan keuangan digital kini makin marak melibatkan jaringan transnasional, Indonesia mendorong anggota G20 untuk mempererat pertukaran informasi dan penindakan hukum lintas batas.
Selain itu, Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendukung penguatan sinergi antara agenda G20 dan kerja Financial Action Task Force (FATF). Langkah kolaboratif ini dinilai krusial demi menjaga integritas, keamanan, serta kepercayaan publik terhadap sistem keuangan global di era digital. *Jel/red*
