Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Imbas Konflik Jalur Laut Merah, Harga Minyak Mentah RI Tembus US$ 89,43 per Barel

Jumat | September 11, 2026 WIB Last Updated 2026-09-11T02:33:30Z
"Ketegangan di jalur maritim krusial, termasuk insiden serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas kilang, telah memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak dunia,", Jakarta, Kamis (10/9/2026). Foto: Kemenesdm

Laporaninformasi.com (Jakarta) – Escalated risiko geopolitik di jalur distribusi internasional mendorong harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) melonjak signifikan. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan ICP Agustus 2026 berada di level US$ 89,43 per barel.


Angka tersebut mencatatkan kenaikan sebesar US$ 7,75 per barel dibandingkan periode Juli 2026 yang berada pada posisi US$ 81,68 per barel. Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 352.K/MG.03/MEM.M/2026.


Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa tren kenaikan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik global yang terus memanas, khususnya di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah.


"Ketegangan di jalur maritim krusial, termasuk insiden serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas kilang, telah memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak dunia," ujar Laode saat ditemui di Kantor Ditjen Migas, Jakarta, Kamis (10/9/2026).


Kenaikan ICP sejalan dengan pergerakan harga minyak mentah utama di pasar internasional selama Agustus 2026. Tercatat, Dated Brent melonjak hingga US$ 90,84 per barel (naik US$ 7,43), Brent ICE menguat ke US$ 88,08 per barel (naik US$ 4,10), dan WTI Nymex menyentuh US$ 82,45 per barel (naik US$ 3,23). Pengetatan sanksi ekonomi-politik dunia dan kebuntuan diplomasi internasional turut mempersempit ruang penurunan harga.


Memasuki September 2026, pemerintah memproyeksikan ICP masih akan tertahan pada kisaran tinggi, yakni antara US$ 83,00 hingga US$ 87,00 per barel. Proyeksi ini mengantisipasi potensi penyusutan cadangan minyak di Amerika Serikat serta risiko hambatan pasokan di Timur Tengah.


Menanggapi gejolak harga global ini, Laode menegaskan bahwa pemerintah mengawasi secara ketat pergerakan pasar demi menjaga ketahanan energi nasional. Transparansi formula kalkulasi ICP juga terus dijaga guna memastikan akuntabilitas beban APBN serta keberlangsungan industri hulu migas nasional. *Jel/red*

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update