Laporaninformasi.com (Jakarta) – Pemerintah memperketat operasi terpadu pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Langkah ini diambil guna melokalisasi titik api secara presisi sekaligus melindungi kesehatan masyarakat dari bahaya paparan asap.
Dalam merespons eskalasi di lapangan, sebanyak 12.880 personel gabungan dari Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BNPB, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga relawan resmi dikerahkan ke titik-titik rawan.
Penempatan pasukan difokuskan pada enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Selain penanganan darat seperti pembuatan sekat bakar dan pendinginan area (mopping up), operasi ini diperkuat melalui jalur udara. Pemerintah menyiagakan pesawat pemadam (water bombing) serta menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) memanfaatkan analisis potensi awan dari BMKG.
Seluruh pergerakan tim mendasarkan pada pemantauan sistem terintegrasi SiPongi Kementerian Kehutanan yang memanfaatkan pencitraan Satelit Terra–Aqua NASA.
Pemerintah mengimbau warga di area terdampak, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil, untuk membatasi aktivitas di luar rumah serta mempergunakan masker.
Kementerian Kehutanan juga menerbitkan peringatan keras bagi masyarakat maupun pelaku usaha agar tidak melakukan pembersihan lahan dengan cara membakar. Setiap pelanggaran yang terbukti di lapangan dipastikan akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku. *Jel/red*
