Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lulus Pelatihan di Solo dan Makassar, Indonesia Kini Miliki 72 Klasifier Olahraga Disabilitas Baru

Sabtu | Juli 04, 2026 WIB Last Updated 2026-07-04T01:52:35Z
Sebanyak 72 peserta resmi menyandang sertifikasi sebagai tenaga klasifikasi (klasifier) olahraga disabilitas fisik nasional, Kamis (2/7/2026). Foto: Kemenpora

Laporaninformasi.com (Solo) — Langkah nyata dalam pemerataan dan peningkatan prestasi olahraga disabilitas di tanah air terus digenjot. Sebanyak 72 peserta resmi menyandang sertifikasi sebagai tenaga klasifikasi (klasifier) olahraga disabilitas fisik nasional. Hasil ini didapat setelah para peserta dinyatakan lulus dalam dua gelombang pelatihan intensif yang digelar di Solo dan Makassar.


Program strategis ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora RI) bersama National Paralympic Committee (NPC) Indonesia. Secara keseluruhan, pelatihan tingkat nasional ini diikuti oleh 77 peserta yang mewakili 28 provinsi di Indonesia.


Gelombang pertama untuk wilayah Indonesia bagian barat dilaksanakan di Solo pada 19-22 Mei 2026 lalu, dengan meluluskan seluruh 45 peserta. Sementara gelombang kedua untuk wilayah Indonesia bagian timur baru saja dihelat di Kota Makassar pada 29 Juni hingga 2 Juli 2026. Dari 32 peserta yang ikut serta di Makassar, 27 di antaranya berhasil dinyatakan lulus dan tersertifikasi.


Plt Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Prestasi Kemenpora, Leny Kurnia, menegaskan bahwa kehadiran 72 klasifier baru ini menjadi angin segar bagi peta olahraga disabilitas nasional. Fokus utama Kemenpora saat ini adalah memutus ketimpangan fasilitas klasifikasi yang selama ini kerap berpusat di kota-kota besar.


"Output dari kegiatan ini, kami ingin ada tenaga klasifier baru yang berkompeten untuk melakukan klasifikasi di daerah-daerah, khususnya daerah yang belum ada klasifier tersertifikasi, sehingga ada pemerataan di setiap provinsi," ujar Leny Kurnia, Kamis (2/7/2026).


Senada dengan Leny, Chief Classifier NPC Indonesia, Dr. dr. Retno Setianing, Sp.KFR (K), menjelaskan bahwa proses klasifikasi merupakan pondasi mutlak dalam olahraga disabilitas guna menciptakan pertandingan yang adil dan setara. Keberadaan tenaga klasifikasi di tingkat daerah akan mempermudah deteksi dini potensi calon atlet agar penempatan cabang olahraga (sport class) yang dipilih sejak awal tidak meleset jauh.


"Ini hal yang baik dalam mencari bibit-bibit atlet baru karena kita harus mempersiapkan Paralimpiade 2028," tutur dr. Retno.


Respons positif datang dari salah satu peserta asal Bali, dr. Made Dwi Puja Setiawan, Sp.K.F.R. Ia mengakui pelatihan ini membuka cakrawala baru mengenai pengelompokkan atlet penyandang disabilitas di daerah yang memiliki variasi potensi yang sangat luas. Namun, ia berharap program ini tidak berhenti sampai di sini.


"Harapannya pelatihan ini bisa berkesinambungan, dilanjutkan dengan pelatihan-pelatihan yang lainnya, juga ketika ada update ilmu yang berkembang secara internasional bisa disampaikan ke semua daerah," kata dr. Made Puja, yang juga berharap ke depan ada pelatihan lanjutan yang langsung spesifik menyasar cabang olahraga tertentu. *Jel/red*

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update