Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bukan Sekadar Ritual Agama, Kirab Waisak 2026 Jadi Magnet Budaya dan Hiburan Rakyat Magelang

Senin | Juni 01, 2026 WIB Last Updated 2026-05-31T22:54:44Z
Antusia warga menyaksikan kemerian prosesi Kirab Perayaan Tri Suci Waisak 2570 B.E. (Buddhist Era) tahun 2026 di Candi Borobudur. Foto : Kemenag

Laporaninformasi.com (Magelang) - Ribuan umat Buddha, masyarakat umum, hingga wisatawan domestik dan mancanegara memadati jalur sepanjang tiga kilometer dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, pada Minggu (31/5/2026). Mereka antusias mengikuti dan menyaksikan prosesi Kirab Perayaan Tri Suci Waisak 2570 B.E. (Buddhist Era) tahun 2026, yang menjadi salah satu rangkaian puncak ritual keagamaan tersebut.


Melansir keterangan Kementrian Agama, Kirab tahunan ini menjadi momen sakral untuk mengarak dua simbol penting Waisak, yakni Api Dharma yang diambil dari Mrapen, Grobogan, dan Air Berkah dari Umbul Jumprit, Temanggung. Kedua simbol suci tersebut sebelumnya telah disemayamkan di Candi Mendut sebelum dikirab menuju pelataran Candi Borobudur.


Prosesi budaya dan spiritual ini dimulai tepat pukul 10.00 WIB dari kompleks Candi Mendut. Barisan kirab dibuka secara megah oleh pembawa bendera di lini terdepan, disusul kendaraan hias pembawa Api Dharma dan Air Berkah. Di belakangnya, tampak tandu Garuda Pancasila, Barisan Bhinneka Tunggal Ika, tandu Kitab Suci Tripitaka, serta rombongan yang membawa gunungan hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur.


Suasana khidmat berpadu indah dengan kemeriahan budaya nusantara. Deretan payung warna-warni tampak memayungi para Bhikkhu Sangha yang berjalan kaki. Sementara di barisan berikutnya, para bhikkhu yang menumpangi kendaraan hias terus melantunkan doa dan paritta suci sembari memercikkan air berkah ke arah warga dan umat yang berjejer rapat di sepanjang tepi jalan.


Kemeriahan tradisi ini tidak hanya dirasakan oleh internal umat Buddha yang diwakili oleh berbagai majelis dan organisasi keagamaan dari seluruh penjuru tanah air, tetapi juga menjadi pesta budaya bagi masyarakat lintas iman.


Anggota DPRD Kota Tangerang sekaligus umat Buddha asal Tangerang, Christian Lois, yang hadir langsung di lokasi, menilai bahwa kirab dari Candi Mendut ke Candi Borobudur bukan sekadar ritual keagamaan periodik, melainkan warisan budaya bernilai tinggi.


“Kirab Waisak ini bukan hanya tradisi keagamaan umat Buddha, tetapi juga simbol kebersamaan dan toleransi. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus dijaga dan dilestarikan,” ujar Christian Lois di Magelang, Minggu (31/5/2026).


Ia menambahkan, perayaan Waisak di Candi Borobudur kini telah berevolusi menjadi pusat spiritualitas Buddha dunia sekaligus magnet pariwisata internasional. Dirinya berharap momentum Waisak 2570 B.E. ini mampu memancarkan berkah, kedamaian, dan kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia.


Bagi warga lokal lokal Magelang, momentum Waisak selalu menjadi kalender peristiwa yang dinanti setiap tahunnya karena mampu menghidupkan atmosfer kawasan wisata Borobudur secara masif.


Ulfa, seorang warga asal Mungkid, Magelang, mengaku selalu menyempatkan diri memboyong keluarganya sejak pagi hari hanya untuk menonton iring-iringan kirab tersebut.


“Saya bersama keluarga sejak pagi menunggu di sini untuk melihat arak-arakan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur. Setiap tahun selalu menarik untuk disaksikan dan menjadi hiburan bagi masyarakat,” kata Ulfa tersenyum.


Melalui perpaduan sakralnya ritual keagamaan dan antusiasme penonton dari berbagai latar belakang, Kirab Waisak 2026 ini kembali membuktikan diri sebagai peristiwa budaya yang ampuh mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus merawat fondasi keberagaman di Indonesia. *red*

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update