Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dituduh Intimidasi dan Bawa Preman, Wali Murid Sekolah Djuwita Batam Buka Suara Terkait Dugaan Kekerasan Oknum Guru

Senin | Juni 08, 2026 WIB Last Updated 2026-06-08T13:20:06Z
Sri Suryatati Wali Murid Play Group Sekolah Djuwita Batam. Foto : Doc Red

Laporaninformasi.com (Batam) - Kasus dugaan kekerasan di lingkungan pendidikan anak usia dini di Kota Batam memasuki babak baru. Sri Suryatati, salah seorang wali murid Play Group Sekolah Djuwita Batam, akhirnya angkat bicara guna meluruskan tuduhan miring yang dialamatkan kepada dirinya terkait dugaan intimidasi dan pengerahan massa preman ke sekolah tersebut.


Dalam konferensi pers yang digelar di Batam Center, Rabu (29/5) lalu, Sri membeberkan kronologi kedatangannya ke sekolah pada Selasa, 21 April 2026 lalu. Ia menegaskan, kehadirannya saat itu justru untuk meminta pertanggungjawaban serta transparansi rekaman CCTV terkait dugaan tindakan kasar oknum guru terhadap anaknya.


"Ini berawal ketika anak saya menangis histeris dan tidak mau masuk ke sekolah. Anak saya teriak dan menjerit-jerit, dan itu terjadi bukan cuma satu dua kali," ungkap Sri kepada awak media.


Sri menjelaskan, perubahan perilaku anaknya sangat drastis sejak bersekolah di tempat tersebut. Padahal, di sekolah sebelumnya, sang anak tidak pernah menunjukkan ketakutan seperti itu. "Anak saya sekarang trauma, tidak mau masuk sekolah. Setiap melihat gurunya (miss), dia langsung menangis dan minta pulang," lanjutnya.


Lebih lanjut, Sri mengaku telah mengendus gelagat tidak beres sejak awal anaknya masuk ke sekolah tersebut. Ia bahkan mengeklaim menyaksikan langsung beberapa tindakan oknum guru yang dinilai terlalu kasar untuk anak didik usia PAUD.


"Dugaan kekerasan dari oknum guru sudah saya lihat sendiri. Mulai dari penarikan anak secara kasar di saat belajar, hingga saat disuapi di mana mulut anak-anak dicolok menggunakan sendok. Takaran makanan juga tidak sesuai dengan posisi dan postur anak," terang Sri.


Kondisi tersebut sebenarnya sempat dilaporkan Sri kepada kepala sekolah. Karena khawatir, ia bahkan sampai mengutus pengasuh pembantu untuk mendampingi anaknya secara khusus pada saat jam makan.


Terkait isu miring yang menyebut dirinya membawa jasa preman dan melakukan intimidasi saat mendatangi Sekolah Djuwita, wanita berkulit putih ini membantah keras tuduhan tersebut. Sri menegaskan bahwa orang-orang yang mendampinginya hari itu adalah karyawan yang bekerja di tempat usahanya sendiri.


"Kedatangan saya tidak membawa preman. Tolong dicatat ya, tidak ada membawa premanisme, itu adalah karyawan saya. Boleh dicek di CCTV, semua karyawan saya duduk dengan sopan di depan. Setelah itu, memang saya ada mengarahkan mereka untuk masuk guna mengambil dokumentasi foto dan video," tegas Sri.


Sri menambahkan, jika dirinya berniat melakukan intimidasi atau gaya premanisme, maka seharusnya sudah terjadi penyerangan fisik di lokasi. Namun faktanya, dalam video yang beredar, para karyawannya hanya duduk mendengarkan dengan sopan di luar ruangan.


"Tujuan saya menyuruh mereka masuk untuk ambil foto dan video itu karena saya mau menunjukkan ke anak saya, mana guru yang diduga memukul dia. Saya tidak punya foto guru itu sebelumnya. Jadi tidak ada melakukan pengancaman, kami hanya mempertanyakan bagaimana cara mendidik anak di sekolah PAUD tersebut," tambahnya.


Sri mengaku sangat kecewa atas langkah hukum pihak sekolah yang justru melaporkannya ke pihak berwajib dan mengunggah potongan video ke media sosial, di saat dirinya tengah mencari keadilan untuk sang anak.


Ia pun menantang pihak manajemen Sekolah Djuwita untuk membuka seluruh rekaman CCTV pada hari kejadian secara transparan tanpa ada bagian yang dipotong (crop).


"Pertanyaan saya, kenapa saya yang harus dilaporkan? Seharusnya pihak sekolah bijak dan tidak menutup-nutupi perbuatan oknum guru itu. Harusnya mediasi, ajak saya baik-baik untuk mengecek dulu terhadap guru itu apakah benar (berbuat kasar), bukan langsung pelaporan dan langsung upload di media. Mohon jangan menampilkan satu sisi, coba dibuka semuanya dari saya masuk; ada tidak penyerangan, pagar sekolah rusak karena ditendang, atau pemukulan? Tolong dibuka semua biar adil," pungkas Sri.


Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih terus berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak yayasan dan manajemen Sekolah Djuwita untuk mendapatkan tanggapan berimbang terkait polemik dunia pendidikan yang sempat viral di Kota Batam ini. *Den/Red*

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update