Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

PSG Sah Jadi Penguasa Eropa, Mimpi Indah 'Double Winners' Arsenal Berakhir Tragis

Minggu | Mei 31, 2026 WIB Last Updated 2026-05-31T04:03:34Z

Laporaninformasi.com (Budapest) - Mimpi Arsenal untuk mengawinkan gelar Liga Primer Inggris dengan trofi Liga Champions harus kandas secara tragis di Puskas Arena. Skuad asuhan Mikel Arteta terpaksa menyerah lewat drama adu penalti yang menegangkan dari sang petahana, Paris Saint-Germain (PSG), setelah bermain imbang 1-1 sepanjang 120 menit.


Kegagalan penendang kelima Arsenal, Gabriel Magalhães, yang melambungkan bola jauh di atas mistar gawang, memastikan PSG menjadi tim pertama yang berhasil mempertahankan takhta tertinggi sepak bola Eropa sejak Real Madrid melakukannya pada periode 2015-2018.


Kejutan Kilat Havertz dan Balasan Dembele

Arsenal sebenarnya memulai laga dengan awal yang sempurna. Pertandingan baru berjalan enam menit ketika Kai Havertz berhasil memecah kebuntuan. Berawal dari sapuan ceroboh kapten PSG, Marquinhos, bola membentur Martin Odegaard dan jatuh ke jalur lari Havertz. Penyerang asal Jerman itu melakukan aksi individu memukau sebelum melepaskan tembakan dari sudut sempit yang melewati jangkauan kiper PSG, Matvey Safonov.


Gol tersebut menjadi pembuka dari performa defensif berkelas dunia yang ditunjukkan Arsenal hampir sepanjang laga. Lini serang PSG yang biasanya haus gol dibuat frustrasi, mati kutu, dan kehilangan arah oleh tembok kokoh The Gunners.


Namun, petaka bagi Arsenal datang di babak kedua. Pelanggaran ceroboh bek pengganti, Cristhian Mosquera, yang menjatuhkan Khvicha Kvaratskhelia dari belakang di area terlarang, membuahkan penalti bagi PSG. Ousmane Dembele yang maju sebagai eksekutor tanpa cela mengecoh David Raya dengan tendangan keras dan indah untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1.


Kontroversi VAR di Babak Tambahan

Laga memanas di babak perpanjangan waktu. Arsenal sempat mengklaim penalti ketika Noni Madueke berhasil memotong jalur lari Nuno Mendes di dalam kotak terlarang sebelum akhirnya terjatuh.


Meski seluruh staf pelatih dan pemain Arsenal melakukan protes keras, wasit Montero tidak bergeming dan insiden tersebut bahkan tidak ditinjau melalui VAR. Protes keras ini justru berbuah kartu kuning bagi Declan Rice dan manajer Mikel Arteta.


Lotre Adu Penalti yang Kejam

Tanpa adanya gol tambahan, juara Eropa harus ditentukan lewat titik putih. Saling balas gol terjadi hingga eksekutor kedua Arsenal, Eberechi Eze, gagal menjalankan tugasnya. Beruntung, kiper Arsenal David Raya langsung menghidupkan asa dengan menepis tendangan Nuno Mendes.


Ketegangan mencapai puncaknya pada tendangan kelima. Gabriel, yang sejatinya tampil spartan memimpin lini belakang Arsenal sepanjang laga, maju sebagai eksekutor. Sial bagi bek asal Brasil tersebut, sepakannya melambung tinggi ke arah tribun yang dipenuhi suporter PSG, memicu gemuruh perayaan kubu Paris.


Suara dari Lapangan: Antara Kebanggaan dan Rasa Sakit

Usai laga, manajer PSG Luis Enrique mengaku kemenangan ini terasa jauh lebih emosional ketimbang kemenangan telak 5-0 atas Inter Milan musim lalu.


"Kemenangan ini terasa lebih kuat karena kami tahu betapa sulitnya bermain melawan Arsenal. Ini adalah momen terbaik musim ini. Kami masih menjadi juara, dua kali berturut-turut, ini luar biasa," ujar Enrique dilansir TNT Sports.


Di kubu seberang, kekecewaan mendalam tidak bisa disembunyikan oleh manajer Arsenal, Mikel Arteta. Namun, ia meminta anak asuhnya untuk tidak melupakan pencapaian luar biasa mereka musim ini setelah menyudahi puasa gelar Liga Inggris selama 22 tahun.


"Sangat sulit untuk menerima kekalahan lewat adu penalti setelah Anda tampil konsisten sepanjang kompetisi. Rasa sakit ini tidak akan hilang begitu saja, kami harus merasakannya. Namun, kami harus sadar dengan musim luar biasa yang sudah kami lalui," ungkap Arteta.


Senada dengan sang manajer, kapten Arsenal Martin Odegaard juga mencoba berbesar hati.


"Kami ingin memenangkan keduanya (Liga Inggris dan Liga Champions). Kami kecewa hari ini, tetapi gelar Liga Primer adalah pencapaian yang masif. Kami harus melihat gambaran besarnya," pungkas Odegaard. *red*

- advertisement -

×
Berita Terbaru Update