Laporaninformasi.com (Jakarta) – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa transformasi menuju ekonomi hijau akan membuka peluang besar bagi lahirnya jutaan green jobs (pekerjaan hijau) di Indonesia.
Saat memberikan pembekalan dalam acara Wisuda Universitas Nasional (UNAS) di Jakarta, Minggu (31/5/2026), Hanif mengajak generasi muda untuk mempersiapkan diri menjadi talenta hijau yang mampu menjawab tantangan lingkungan sekaligus menggerakkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Menurutnya, dunia saat ini tengah menghadapi triple planetary crisis, yaitu krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan yang berdampak langsung pada aspek ekonomi, sosial, hingga kemanusiaan.
“Indonesia berada di garis depan risiko perubahan lingkungan global. Namun kondisi ini bukan alasan untuk pesimis. Justru Indonesia memiliki legitimasi moral yang kuat untuk menjadi bagian penting dari solusi global,” ujar Hanif Faisol Nurofiq.
Menyitir data survei Sukarelawan Indonesia Pembela Alam (RIMBA), Hanif menyebutkan lebih dari 80 persen Generasi Z di Indonesia memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan hidup. Ia optimistis bahwa Gen Z merupakan "generasi solusi" yang mampu mengubah kepedulian menjadi aksi nyata dan inovasi.
Apalagi, visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto telah menempatkan keberlanjutan ekologis sebagai salah satu fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045. Ke depan, pasar kerja global akan membutuhkan banyak profesi baru yang berorientasi pada keberlanjutan, seperti ahli energi terbarukan, pengelola sampah modern, carbon analyst, hingga circular economy specialist.
“Transisi menuju ekonomi hijau diperkirakan akan melahirkan jutaan lapangan pekerjaan baru. Namun kita juga harus memastikan bahwa green jobs tersebut merupakan pekerjaan yang layak, memberikan perlindungan tenaga kerja, kesejahteraan, dan kesempatan yang adil. Masa depan ekonomi dunia tidak hanya digital, tetapi juga hijau. Future jobs are green jobs,” tegasnya.
Indonesia memiliki posisi tawar strategis dalam agenda lingkungan global karena memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia, kawasan mangrove yang luas, serta kekayaan biodiversitas yang tinggi.
Sebagai langkah konkret dari transformasi makro tersebut, pemerintah menargetkan 100 persen sampah terkelola pada tahun 2029 lewat penguatan ekonomi sirkular dan transformasi tata kelola material.
Untuk mencapai target tersebut, KLH terus mendorong berbagai inovasi teknologi penanganan sampah modern, di antaranya, Refuse Derived Fuel (RDF), Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dan Teknologi pirolisis.
Melalui momentum kelulusan ini, KLH/BPLH mengajak lulusan baru dan generasi muda untuk mengambil peran aktif sebagai agen perubahan, bukan sekadar menjadi pencari kerja, melainkan pencipta inovasi dan solusi ekologis demi masa depan Indonesia yang maju, berdaya saing, dan berkelanjutan. *anj/red*
