Laporaninformasi.com (Pekanbaru) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau berkomitmen memulihkan ekosistem perkotaan di Kota Pekanbaru melalui gerakan penghijauan masif. Sebanyak 1.000 batang pohon pelindung ditargetkan akan ditanam untuk mengepung seluruh area terbuka hijau di kawasan Stadion Utama Riau, Jalan Naga Sakti.
Langkah ini diambil sebagai bentuk investasi ekologis jangka panjang untuk menjaga keseimbangan lingkungan, memperkuat ketahanan iklim, serta menekan polusi udara di ibu kota provinsi.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menegaskan bahwa proyek penghijauan berskala besar ini bukan sekadar kosmetik untuk mempercantik estetika kota, melainkan sebuah ambisi untuk menyulap kompleks olahraga eks-PON 2012 tersebut menjadi paru-paru kota yang baru.
"Iya, dalam waktu dekat akan kita lakukan proyek penghijauan secara besar-besaran di sini. Kami menargetkan akan menanam sedikitnya seribu batang pohon baru untuk diletakkan di sepanjang area terbuka hijau kawasan Stadion Utama ini," ujar SF Hariyanto saat memberikan keterangan pers kepada media di sela peninjauan lapangan, Sabtu sore (6/6/2026).
Realisasi penanaman seribu pohon ini juga dipersiapkan sebagai kado kultural dan ekologis yang puncaknya diintegrasikan dengan peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Riau pada 9 Agustus 2026 mendatang.
Mengantisipasi kegagalan program penghijauan yang kerap kali layu pasca-seremonial, Pemprov Riau telah merancang strategi pemeliharaan yang lebih ketat dan terukur.
Sebelum proses penanaman dimulai, Hariyanto telah menginstruksikan pembersihan total atas sisa-sisa material sampah di kompleks olahraga tersebut. Langkah ini diperlukan agar tim teknis dapat memetakan titik tanam secara akurat demi keberlangsungan hidup vegetasi.
"Jadi sebelum tanggal 9 Agustus, seluruh area ini sudah harus bersih agar tim teknis bisa memetakan dengan akurat titik-titik mana saja yang ideal untuk ditanami pohon, sehingga aset daerah ini bisa terawat dengan baik," tegas Hariyanto.
Guna memastikan keberlanjutan proyek, Pemprov Riau menerapkan skema kolaborasi lintas sektor yang melibatkan instansi vertikal, TNI/Polri, sektor swasta melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR), hingga komunitas akar rumput.
Kerja gotong royong ini akan menggunakan sistem zonasi lahan pertanggungjawaban. Lewat sistem ini, setiap instansi yang terlibat memegang tanggung jawab penuh atas pengawasan dan pemeliharaan hidup atau matinya pohon di zona yang telah ditentukan.
Sebagai tahap awal atau pra-kegiatan bersempena Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, sebanyak 50 bibit pohon telah ditanam di kawasan stadion sebagai langkah penjajakan tanah.
Jenis vegetasi yang dipilih merupakan komoditas kayu keras yang adaptif dengan karakteristik tanah Riau, di antaranya pohon ulin, ahoni, pulai, trembesi dan pohon meranti.
Jenis-jenis pohon ini dipilih secara khusus karena memiliki karakteristik akar yang kuat dan tajuk yang rimbun, sehingga dinilai memiliki nilai ekologis tinggi dalam menyerap karbon serta mengikat cadangan air tanah untuk masa depan Kota Pekanbaru. *red*
